BISNIS.HOTNEWS.ID - PT PLN (Persero) tengah menggalakkan upaya ambisius untuk meningkatkan kapasitas pembangkit listrik nasional, dengan fokus utama pada energi terbarukan. Target spesifik PLN adalah mengamankan tambahan kapasitas sebesar 19,1 gigawatt (GW) yang bersumber dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang terintegrasi dengan sistem penyimpanan energi baterai atau Battery Energy Storage System (BESS) pada tahun 2030.
Penambahan kapasitas energi bersih ini merupakan bagian integral dari rencana jangka panjang perusahaan untuk meningkatkan ketahanan dan keandalan sistem kelistrikan di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Langkah ini sekaligus menjadi strategi penting dalam transisi energi nasional menuju energi baru dan terbarukan (EBT).
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyampaikan bahwa investasi besar pada PLTS-Baterai ini memiliki dua tujuan krusial. Selain memfasilitasi pemuatan daya listrik yang semakin meningkat di Pulau Jawa, strategi ini juga bertujuan untuk meningkatkan keandalan pasokan secara keseluruhan.
Dilansir dari Bloomberg Technoz, Darmawan Prasodjo menegaskan pentingnya proyek ini dalam mengurangi ketergantungan energi nasional. "Ada tambahan kapasitas sampai 2030 sekitar 19,1 GW dan ini tentu saja akan memfasilitasi bukan hanya pemuatan daya listrik di Pulau Jawa, tetapi juga meningkatkan keandalannya," ujar Darmawan Prasodjo.
Lebih lanjut, Darmawan menjelaskan bahwa peningkatan penggunaan PLTS yang didukung sistem penyimpanan baterai akan secara signifikan memengaruhi neraca impor bahan bakar. "Ini juga mengurangi konsumsi BBM yang berbasis pada impor," tegasnya saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI pada Kamis (2/7/2026).
Untuk merealisasikan target ambisius sebesar 19,1 GW ini, PLN menyadari perlunya koordinasi lintas kementerian yang intensif. Proses pengadaan lahan untuk pembangunan fasilitas PLTS menjadi salah satu fokus utama dalam langkah awal implementasi strategi ini.
Koordinasi tersebut dilakukan secara berkelanjutan dengan dua kementerian kunci, yaitu Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Kolaborasi ini diperlukan untuk memastikan ketersediaan lahan sesuai kebutuhan proyek.
Dalam konteks pengadaan lahan ini, Kementerian ATR/BPN telah memberikan kontribusi signifikan dalam mempermudah perencanaan infrastruktur energi tersebut. "Kementerian ATR/BPN telah mengusulkan lahan seluas 28.000 hektare (ha) di Pulau Jawa," papar Darmawan Prasodjo.
Rencana strategis ini menunjukkan komitmen PLN dalam mempercepat bauran energi terbarukan demi menjamin keamanan pasokan listrik di masa depan sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam mengurangi emisi karbon.