BISNIS.HOTNEWS.ID - Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru ini merilis data terbaru mengenai kinerja perdagangan luar negeri Indonesia untuk periode Mei 2026. Data tersebut menunjukkan adanya perlambatan dalam aktivitas ekspor nasional sepanjang bulan tersebut.

Secara keseluruhan, nilai ekspor Indonesia pada Mei 2026 tercatat mencapai angka sebesar US$ 23,20 miliar. Angka ini menandai adanya penurunan yang cukup signifikan dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya (year on year/yoy).

Penurunan kinerja ini tidak hanya terjadi pada sektor nonmigas, tetapi juga menyentuh sektor minyak dan gas bumi (migas). Kedua komponen utama ekspor ini menunjukkan tren pelemahan secara bersamaan pada bulan yang dimaksud.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, memaparkan rincian mengenai kontraksi yang terjadi. Penurunan kinerja ekspor ini mencakup kedua sektor utama tersebut, baik migas maupun nonmigas.

Lebih lanjut, Ateng Hartono menjelaskan bahwa nilai ekspor migas pada Mei 2026 berada di angka US$ 760 juta. Angka tersebut menunjukkan koreksi tajam dengan penurunan signifikan mencapai 31,76% dibandingkan Mei 2025.

Sementara itu, sektor nonmigas, yang merupakan tulang punggung utama ekspor Indonesia, juga mengalami tekanan. Nilai ekspor nonmigas tercatat sebesar US$ 22,45 miliar, yang berarti mengalami penurunan sebesar 4,50%.

Dalam konferensi pers yang diadakan di kantor BPS, Jakarta, pada hari Rabu, 1 Juli 2026, Ateng Hartono menegaskan kembali temuan tersebut. "Pada Mei 2026 nilai ekspor mencapai US$ 23,20 miliar atau turun 5,73% jika dibandingkan Mei 2025," kata Ateng.

Ateng Hartono juga secara spesifik menggarisbawahi dampak penurunan di sektor energi. "Nilai ekspor migas senilai US$ 0,76 miliar atau turun 31,76%," tegasnya.

Mengenai kontributor terbesar penurunan, Ateng Hartono menambahkan perbandingan untuk sektor barang industri. "Sedangkan nilai ekspor nonmigas tercatat mengalami penurunan 4,50% dengan nilai US$ 22,45 miliar," ujar Ateng Hartono.