BISNIS.HOTNEWS.ID - Aksi terpuji penggemar sepak bola Jepang yang membersihkan stadion usai pertandingan kembali menarik perhatian publik global minggu ini, khususnya setelah laga melawan Belanda di Piala Dunia. Tindakan kebersihan yang konsisten ini, meski dipuji, justru memicu perbincangan kritis di dunia maya mengenai standar perilaku di ranah domestik.

Perdebatan ini terwujud dalam bentuk meme yang menyentil para pria di Jepang karena dianggap tidak menerapkan etika kebersihan yang sama di lingkungan rumah mereka sendiri. Hal ini menunjukkan adanya disparitas antara perilaku publik yang tertib dengan tanggung jawab pribadi di rumah.

Salah satu visualisasi yang menjadi viral adalah parodi poster etika yang biasa ditemukan di kereta bawah tanah Jepang. Gambar tersebut memperlihatkan kontras antara seorang suporter yang sedang membersihkan stadion dengan situasi di rumah tangga.

Dalam parodi tersebut, seorang pria yang mengenakan seragam biru tim nasional, Samurai Blue, terlihat bersantai di sofa, sementara seorang perempuan tampak sedang mencuci piring di latar belakang. Slogan yang menyertai gambar itu secara langsung menyerukan perubahan perilaku, "Tolong lakukan juga di rumah."

Unggahan visual tersebut segera menyebar luas di platform X dan berhasil mendapatkan lebih dari 13.000 kali dibagikan ulang oleh pengguna internet. Hal ini menandakan betapa relevannya isu pembagian beban kerja domestik di masyarakat Jepang saat ini.

Isu ini bukan sekadar kritik sosial sesaat, melainkan merujuk pada data statistik mengenai pembagian kerja tanpa bayaran di Jepang. Data menunjukkan bahwa rata-rata pria Jepang hanya menyumbangkan sebagian kecil dari total pekerjaan rumah tangga, seperti membersihkan, berbelanja, dan mengasuh anak.

Kondisi ini terjadi meskipun semakin banyak perempuan Jepang yang kini aktif berpartisipasi dalam angkatan kerja formal. Ketidakseimbangan ini menjadi sorotan utama dalam diskusi mengenai kesetaraan gender dalam ranah domestik.

Dilansir dari Bloomberg, data dari Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menguatkan temuan ini. Data OECD menunjukkan bahwa kontribusi pria Jepang terhadap pekerjaan rumah tangga berada pada posisi yang sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara anggota OECD lainnya.

Sebuah unggahan di media sosial yang mengomentari fenomena ini menyatakan bahwa perhatian terhadap aksi pembersihan stadion oleh pria Jepang perlu diimbangi dengan kesadaran akan waktu kerja domestik pria yang secara internasional berada di tingkat yang sangat rendah. Unggahan tersebut menambahkan, "Pertama-tama, mari kita bagi tugas pengasuhan di dalam rumah," merujuk pada kebutuhan akan pembagian peran yang lebih adil.