BISNIS.HOTNEWS.ID - Pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (19/6/2026), nilai tukar Rupiah tercatat mengalami depresiasi signifikan terhadap mata uang Dolar Amerika Serikat (AS). Fenomena ini menjadi perhatian utama bagi para pelaku pasar dan otoritas moneter di Indonesia.
Pelemahan Rupiah ini terjadi seiring dengan dinamika pasar global yang menunjukkan peningkatan permintaan terhadap mata uang Paman Sam. Permintaan global yang tinggi ini secara alami memberikan tekanan depresiasi terhadap mata uang domestik.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Refinitiv, posisi mata uang Garuda pada awal perdagangan hari itu berada di level Rp17.830 per dolar AS. Angka tersebut menandai adanya pergerakan pasar yang cukup fluktuatif sepanjang hari perdagangan.
Depresiasi yang tercatat mencapai 0,73% dari posisi penutupan perdagangan pada hari sebelumnya. Persentase pelemahan ini mengindikasikan adanya tekanan jual yang cukup kuat terhadap mata uang Rupiah pada periode tersebut.
Menanggapi situasi ini, Bank Sentral Republik Indonesia dilaporkan telah mengambil langkah-langkah tambahan untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah. Langkah-langkah ini diambil sebagai bentuk intervensi untuk meredam volatilitas pasar yang berlebihan.
"Pelemahan signifikan Rupiah terhadap Dolar AS pada perdagangan terakhir pekan ini terjadi seiring dengan meningkatnya permintaan global terhadap mata uang Paman Sam di pasar internasional," demikian dikonfirmasi mengenai penyebab utama pelemahan tersebut.
Langkah-langkah stabilisasi yang diambil oleh otoritas moneter tersebut bertujuan memastikan bahwa pergerakan nilai tukar tetap berada dalam koridor yang sehat dan terkelola dengan baik. Hal ini penting untuk menjaga stabilitas ekonomi makro secara keseluruhan.
Dikutip dari Tren.Bisnismarket, pergerakan nilai tukar ini menjadi indikator penting yang terus dipantau oleh regulator keuangan. Intervensi pasar diharapkan dapat mengembalikan kepercayaan diri investor terhadap prospek Rupiah ke depannya.