BISNIS.HOTNEWS.ID - Manajemen aset terbesar di dunia, BlackRock Inc., melalui divisi risetnya, BlackRock Investment Institute, telah merilis pandangan terbarunya mengenai prospek investasi global untuk pertengahan tahun 2026. Pandangan ini menunjukkan pergeseran sikap yang lebih hati-hati terhadap pasar saham di negara berkembang.

Perubahan pandangan ini mengindikasikan bahwa BlackRock kini lebih memilih untuk bersikap netral terhadap saham pasar negara berkembang untuk periode enam hingga dua belas bulan ke depan. Sebelumnya, pandangan mereka terhadap segmen ini masih berada pada posisi overweight atau lebih unggul.

Keputusan ini diambil berdasarkan analisis mendalam mengenai beberapa risiko signifikan yang teridentifikasi dalam pasar-pasar tersebut. Salah satu kekhawatiran utama yang diangkat adalah risiko yang terkait dengan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang dinilai terlalu terkonsentrasi.

Selain itu, BlackRock juga menyoroti bahwa kekhawatiran pasar terkait kebijakan, khususnya mengenai prospek suku bunga di masa mendatang, dinilai telah berlebihan. Fokus pada kebijakan suku bunga ini menjadi salah satu pertimbangan dalam penyesuaian strategi investasi mereka.

BlackRock secara spesifik menyoroti pasar di kawasan Asia, seperti Taiwan dan Korea Selatan, sebagai contoh negara yang sangat terpapar pada perusahaan-perusahaan yang memiliki keterkaitan erat dengan rantai nilai AI. Eksposur tinggi ini meningkatkan kerentanan sistemik di wilayah tersebut.

Divisi riset BlackRock Investment Institute menjelaskan bahwa diversifikasi geografis saja tidak lagi cukup untuk menghilangkan risiko konsentrasi ini. Hal ini terjadi karena beberapa pasar utama ternyata terikat erat pada rantai nilai teknologi yang sama.

"Diversifikasi geografis tidak mengurangi risiko konsentrasi ketika beberapa pasar terikat pada rantai nilai yang sama," demikian disebutkan dalam dokumen riset yang dikeluarkan oleh BlackRock Investment Institute, divisi dari manajer aset tersebut yang berfokus pada riset terkait investasi.

"Risiko konsentrasi semacam itu menyebabkan kami menurunkan peringkat saham pasar negara berkembang secara umum," tambah BlackRock Investment Institute, menggarisbawahi alasan utama di balik perubahan rekomendasi mereka.

Sebagai kompensasi atas sikap hati-hati terhadap saham negara berkembang, BlackRock justru menunjukkan optimisme terhadap obligasi pemerintah di kawasan Eurozone. Pandangan positif ini berlaku untuk jangka waktu pendek hingga menengah dalam strategi investasi mereka.