BISNIS.HOTNEWS.ID - Pergerakan nilai tukar Rupiah di pasar domestik kembali menunjukkan pelemahan pada penutupan sesi perdagangan hari Selasa, 30 Juni 2026. Mata uang Garuda tercatat terdepresiasi sebesar 0,19% dari penutupan sebelumnya.
Rupiah akhirnya ditutup pada posisi Rp17.882 per Dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan hari itu. Pelemahan ini sejalan dengan dinamika pasar keuangan regional yang dipengaruhi oleh sentimen global.
Penyebab utama dari depresiasi Rupiah adalah menguatnya mata uang Dolar AS secara umum di pasar internasional. Indeks Dolar AS berhasil mempertahankan level kenaikan yang cukup tinggi pada level 101,41.
Penguatan Dolar AS tersebut turut menekan mayoritas mata uang di kawasan Asia, menciptakan tren pelemahan yang meluas. Hal ini menunjukkan adanya perpindahan arus modal atau sentimen risk-off yang berpihak pada mata uang safe haven.
Data menunjukkan bahwa Won Korea Selatan mengalami pelemahan paling signifikan di antara mata uang Asia lainnya, terdepresiasi hingga 0,68%. Mata uang lain seperti Peso Filipina, Yen Jepang, dan Rupee India juga ikut tertekan.
Rupiah berada di tengah daftar mata uang Asia yang melemah, bersama dengan Dolar Singapura dan Ringgit Malaysia. Hanya segelintir mata uang yang berhasil mencatatkan penguatan tipis pada hari tersebut.
Di sisi lain, Baht Thailand, Yuan Tiongkok (baik onshore maupun offshore), serta Dolar Taiwan justru mampu menguat. Penguatan mata uang tersebut diklaim tertopang oleh sentimen positif dari kondisi domestik masing-masing negara.
Sementara itu, pasar obligasi pemerintah Indonesia menunjukkan pergerakan yang cukup bervariasi pada tenor yang berbeda. Kurva imbal hasil mengalami dinamika yang beragam, mencerminkan ekspektasi pasar yang belum sepenuhnya seragam.
Untuk tenor obligasi jangka pendek hingga menengah, tercatat adanya kenaikan imbal hasil yang sifatnya tipis. Kenaikan ini menandakan adanya sedikit penyesuaian harga di pasar surat utang jangka pendek.