BISNIS.HOTNEWS.ID - Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan akan mengumumkan perkembangan terbaru mengenai data Indeks Harga Konsumen (IHK) serta Neraca Perdagangan Indonesia pada hari Rabu, 1 Juli 2026.
Para ekonom telah menyusun proyeksi mengenai laju inflasi yang akan dihadapi Indonesia pada bulan Juni 2026, dengan perkiraan angka yang cukup signifikan. Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi diperkirakan dapat menyentuh level 3,45%.
Peningkatan tekanan inflasi ini dipicu oleh beberapa faktor utama yang terjadi sepanjang bulan Juni 2026. Faktor dominan yang disorot adalah kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax di pasaran.
Selain itu, kenaikan harga sejumlah komoditas kebutuhan pokok juga turut memberikan kontribusi substansial terhadap dorongan inflasi di periode tersebut. Hal ini menunjukkan adanya tekanan dari sisi permintaan maupun sisi penawaran.
David Sumual, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA), memberikan pandangannya mengenai pergerakan inflasi bulanan. Ia memproyeksikan laju inflasi pada Juni 2026 akan tercatat sebesar 0,55% secara bulanan (month-to-month/mtm).
David menjelaskan secara spesifik mengenai komponen pendorong inflasi bulanan tersebut. "Inflasi Juni didorong oleh harga Pertamax yang naik 33%, dan berkontribusi sekitar 0.37% terhadap inflasi. Kemudian, harga bahan pokok juga konsisten masih naik," ujar David kepada Bloomberg Technoz, dikutip Rabu (1/7/2026).
Meskipun terjadi kenaikan inflasi umum, David Sumual juga memberikan proyeksi mengenai inflasi inti yang cenderung lebih stabil. Ia memprediksi inflasi inti akan mencapai 2,38% secara tahunan (yoy).
Lebih lanjut, David menyebutkan bahwa tren inflasi inti pada basis bulanan menunjukkan adanya sedikit perlambatan. "Sementara secara bulanan mengalami penurunan -0.14% (mtm)," tambah David Sumual.
Dilansir dari Bloomberg Technoz, data resmi BPS hari ini akan menjadi konfirmasi akhir atas proyeksi yang telah disampaikan oleh para analis ekonomi mengenai kondisi harga konsumen di Indonesia.