BISNIS.HOTNEWS.ID - Wilayah Eropa Barat tengah bersiap menghadapi potensi gelombang panas yang akan datang, menyusul meredanya gelombang panas ekstrem sebelumnya. Tanda-tanda munculnya fenomena cuaca panas ini mulai terdeteksi dari pergerakan sistem tekanan tinggi di Samudra Atlantik.
Pemicu utama gelombang panas berikutnya adalah pergerakan wilayah bertekanan tinggi yang diperkirakan akan bergerak mendekati dan meluas ke benua Eropa. Pergerakan ini secara otomatis akan menggeser udara yang lebih sejuk dan memicu kembali kondisi suhu tidak biasa di beberapa negara utama.
Negara-negara seperti Spanyol, Prancis, dan Inggris diprediksi akan kembali merasakan peningkatan suhu signifikan dalam beberapa hari ke depan. Kondisi ini menjadi tantangan berulang bagi kawasan yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia tersebut.
Secara spesifik, prediksi suhu menunjukkan bahwa Portugal dan wilayah selatan Spanyol akan menghadapi suhu ekstrem, mencapai masing-masing 43 derajat Celsius dan 41 derajat Celsius pada pekan ini. Sementara itu, ibu kota seperti Paris dan London juga akan merasakan dampaknya.
Untuk wilayah metropolitan, suhu di Paris diperkirakan akan menyentuh angka 30 derajat Celsius pada hari Jumat. Sementara itu, London diprediksi akan mengalami kenaikan suhu hingga 31 derajat Celsius pada hari Senin mendatang.
Kondisi cuaca ekstrem yang berulang ini secara langsung meningkatkan frekuensi dan intensitas gelombang panas, sebuah konsekuensi langsung dari perubahan iklim global. Fenomena ini memberikan beban berat pada infrastruktur vital seperti sistem kesehatan dan transportasi.
Dampak dari pemanasan ini juga menyingkap kerentanan sektor perumahan di kota-kota besar, seperti yang terlihat di London, yang kesulitan menghadapi suhu tinggi yang berkepanjangan.
Meskipun demikian, meteorolog memperkirakan bahwa gelombang panas ketiga sejak akhir Mei ini tidak akan mencapai tingkat ekstrem seperti yang melanda kawasan tersebut bulan lalu. Hal ini disampaikan oleh seorang pakar dari lembaga cuaca nasional.
"Pada tahap ini, tampaknya cuaca tidak akan sepanas atau selembap yang kami alami pekan lalu," ujar Alex Burkill, meteorolog dari Kantor Meteorologi Inggris (UK Met Office), saat memberikan pengarahan melalui video.