BISNIS.HOTNEWS.ID - Perkembangan pasar energi global menunjukkan adanya keengganan signifikan dari berbagai negara untuk melakukan pembelian minyak mentah dari Iran. Situasi ini dipicu oleh ketakutan akan potensi pemberlakuan kembali sanksi oleh Amerika Serikat (AS) di masa mendatang.
Ketidakpastian regulasi internasional ini menjadi faktor utama yang menahan laju ekspor minyak Iran ke pasar selain China. Para calon pembeli dilaporkan masih menimbang risiko hukum dan finansial yang mungkin timbul jika kebijakan sanksi AS berubah sewaktu-waktu.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, baru-baru ini memberikan pandangan mengenai kondisi pasar tersebut dalam sebuah wawancara. Menurutnya, mayoritas negara masih berada dalam posisi yang belum siap untuk mengambil risiko berdagang dengan Teheran.
Bessent secara spesifik mengungkapkan bahwa kekhawatiran pemberlakuan sanksi kembali oleh AS secara efektif menjadi insentif bagi Iran untuk segera memulai negosiasi dengan Washington. Situasi ini menciptakan tekanan tersendiri bagi pemerintah Iran.
Mengenai siapa yang saat ini menjadi pembeli utama, Bessent menyatakan bahwa hanya satu negara yang secara aktif melanjutkan pembelian minyak dari Iran. "Sejauh ini Iran belum dapat menjual minyak mereka, karena para pembeli sedikit was-was, apakah minyak tersebut akan dikenai sanksi lagi," kata Bessent kepada Fox News, Selasa.
Lebih lanjut, Menteri Keuangan tersebut mengidentifikasi pembeli tunggal yang berani mengambil risiko di tengah ketidakpastian sanksi yang berlaku. "Tidak ada negara lain selain China, yang sudah membelinya ketika sanksi masih berlaku, yang membelinya, jadi harganya masih dijual dengan diskon," ujar Bessent.
Kondisi pasar yang timpang ini, di mana Iran kesulitan mencari pembeli lain, dilihat oleh Amerika Serikat sebagai peluang strategis. Penjualan yang terbatas ini memberikan tekanan ekonomi yang mungkin mendorong Iran menuju meja perundingan.
Hal ini menunjukkan bahwa ketegangan geopolitik masih sangat memengaruhi dinamika perdagangan komoditas energi krusial tersebut. "Inilah alasan bagi Iran untuk benar-benar menerima negosiasi ini," imbuh Bessent, menekankan potensi pengaruh sanksi terhadap langkah diplomatik Iran.
Dilansir dari Bloomberg News, pernyataan ini memberikan gambaran jelas mengenai bagaimana penerapan kebijakan luar negeri AS berdampak langsung pada rantai pasok energi internasional.