BISNIS.HOTNEWS.ID - Aset Kelolaan (AUM) yang dikelola oleh Indonesia Investment Authority (INA) dilaporkan menunjukkan tren stagnasi atau mendatar selama periode tiga tahun terakhir. Perkembangan ini menjadi sorotan utama dalam pengelolaan dana investasi negara.
Berdasarkan catatan terbaru, AUM INA tercatat mencapai Rp146,2 triliun pada penghujung tahun 2025. Angka ini hanya mengalami kenaikan tipis dibandingkan posisi tahun sebelumnya yang berada di level Rp144,3 triliun.
Meskipun terjadi kenaikan nominal, jika dilihat secara persentase, posisi aset kelolaan pada akhir 2025 justru mengalami kontraksi. Angka tersebut minus 1,02% dari total aset kelolaan yang tercatat pada akhir tahun 2023.
Chief Financial Officer (CFO) INA, Eddy Porwanto, memberikan penjelasan mengenai faktor yang menyebabkan tren pendataran nilai aset kelolaan ini dalam beberapa waktu terakhir. Faktor utama yang disorot adalah kondisi pasar modal yang cenderung volatil sepanjang tahun 2025.
Dilansir dari Bloomberg Technoz, Eddy Porwanto menguraikan bahwa volatilitas pasar modal menjadi penentu utama kondisi AUM INA saat ini. Kondisi ini perlu diwaspadai oleh manajemen INA ke depannya.
"Tahun 2025 itu kan sebetulnya pasar modal volatil, porsi dari saham BBRI dan BMRI itu cukup besar di neraca kita," kata Eddy saat temu media di Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Koreksi signifikan yang terjadi pada harga saham dua emiten bank besar, yaitu PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), turut memberikan tekanan pada nilai aset INA. Kedua saham ini memegang porsi yang cukup besar dalam portofolio investasi INA.
Tekanan pada saham BBRI dan BMRI ini kemudian tercermin langsung pada posisi akhir aset kelolaan INA yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan. Hal ini menegaskan sensitivitas portofolio INA terhadap pergerakan saham-saham unggulan di pasar domestik.
Pertemuan media di Jakarta pada hari Rabu, 1 Juli 2026, menjadi momen bagi manajemen INA untuk memaparkan kondisi terkini mengenai kinerja investasi mereka di hadapan publik. Penjelasan ini memberikan gambaran mengenai tantangan yang dihadapi dalam mengelola aset strategis negara.