BISNIS.HOTNEWS.ID - Kapasitas kilang minyak Indonesia masih tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara produsen energi besar seperti Rusia, Arab Saudi, dan Amerika Serikat. Hal ini diungkapkan oleh Ekonom Energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti.

Perbandingan ini tidak hanya menyangkut volume produksi, tetapi juga mencakup tingkat kecanggihan teknologi kilang, kemampuan menjaga stok energi nasional, serta pengaruh posisi geopolitik. Faktor-faktor tersebut secara kolektif menentukan ketahanan pasokan minyak suatu negara.

Dalam sebuah riset yang dipaparkannya, Yayan Satyakti mencatat bahwa Indonesia saat ini memiliki kapasitas kilang minyak berkisar antara 1,15 hingga 1,4 juta barel per hari. Kapasitas ini masih dalam tahap peningkatan melalui berbagai proyek pengembangan, termasuk Refinery Development Master Plan (RDMP).

Lebih lanjut, tingkat kompleksitas kilang minyak Indonesia diukur menggunakan Nelson Complexity Index (NCI). Nilai NCI rata-rata kilang di Indonesia tercatat sekitar 8,2.

"Kompleksitas kilang atau NCI Balongan itu 8,2, [tertinggi] 11,9. Proses hydrocracking atau FCC difokuskan pada produksi solar dan bensin," demikian tertulis dalam riset Yayan Satyakti.

Kilang RU VI Balongan disebut sebagai kilang paling kompleks di Indonesia, dengan NCI yang mencapai angka 11,9. Keberadaan kilang yang lebih kompleks ini penting untuk menghasilkan produk-produk turunan minyak yang lebih bernilai.

Fokus utama kilang-kilang yang memiliki tingkat kompleksitas tinggi, seperti yang dijelaskan Yayan Satyakti, adalah pada proses hydrocracking atau Fluid Catalytic Cracking (FCC). Proses ini sangat vital untuk meningkatkan produksi bahan bakar seperti solar dan bensin.

"Proses hydrocracking atau FCC difokuskan pada produksi solar dan bensin," tulis Yayan dalam risetnya. Pernyataan ini menegaskan pentingnya teknologi kilang untuk memenuhi kebutuhan energi domestik.

Perbedaan mendasar ini, menurut Yayan Satyakti, menciptakan tantangan tersendiri bagi Indonesia dalam menghadapi dinamika pasar energi global yang semakin kompetitif. Ia juga menyoroti bagaimana negara-negara seperti Rusia, Arab Saudi, dan AS memiliki keunggulan dalam hal ini.