BISNIS.HOTNEWS.ID - Kondisi likuiditas sistem perbankan di Indonesia mulai menunjukkan adanya pengetatan yang signifikan. Hal ini terjadi seiring dengan meningkatnya ketidakpastian kondisi global serta tren kenaikan suku bunga acuan yang terus berlangsung.
Permasalahan likuiditas ini diperkirakan tidak akan dirasakan secara merata oleh seluruh pelaku industri perbankan nasional. Terdapat perbedaan dampak yang mencolok antara bank besar dengan bank yang memiliki skala operasional lebih kecil.
Chief Economist Bank Tabungan Negara (BTN), Myrdal Gunarto, memberikan pandangannya mengenai dinamika ini. Ia menyoroti kelompok bank yang masuk dalam kategori Bank Umum Kelompok Usaha (KBMI) 1 dan 2 sebagai pihak yang paling rentan.
"Tekanan yang signifikan akan sangat terasa di kelompok bank menengah dan kecil (KBMI 1 dan 2), yang akan mengalami perebutan likuiditas yang paling ketat,” ujar Myrdal Gunarto saat dihubungi pada hari Rabu, 24 Juni 2026.
Perbedaan tekanan ini disebabkan oleh posisi fundamental masing-masing kelompok bank. Bank-bank besar, yang tergolong KBMI 3 dan 4, relatif lebih mampu menjaga stabilitas likuiditas mereka.
Bank-bank besar ini disebut masih menikmati fenomena flight to quality dari pasar. Selain itu, mereka juga memiliki fondasi Current Account Saving Account (CASA) yang cenderung lebih kokoh dan kuat.
Kekuatan struktur pendanaan tersebut memberikan keuntungan tambahan berupa akses yang lebih mudah ke Pasar Uang Antarbank (PUAB). Akses ini memastikan mereka memiliki sumber dana jangka pendek yang lebih fleksibel dibandingkan pesaing yang lebih kecil.
Dilansir dari Bloomberg Technoz, situasi makro ini memaksa seluruh industri perbankan untuk melakukan penyesuaian strategis. Bank didorong untuk lebih fokus pada optimalisasi manajemen aset dan liabilitas mereka.
Myrdal Gunarto menekankan pentingnya disiplin dalam pengelolaan dana di tengah tantangan ini. Ia menggarisbawahi bahwa fungsi intermediasi perbankan harus tetap berjalan optimal.