BISNIS.HOTNEWS.ID - Perkembangan pasar komoditas menunjukkan bahwa harga emas berhasil mempertahankan momentum kenaikan signifikan, bahkan melampaui ambang batas psikologis US$4.000 per troy ons pada penutupan perdagangan Jumat waktu Amerika Serikat. Pencapaian ini terjadi setelah rilis data inflasi terbaru dari Amerika Serikat yang memberikan dampak kuat terhadap ekspektasi kebijakan suku bunga ke depan.

Kenaikan ini menandai akhir dari periode perdagangan yang penuh gejolak bagi logam mulia tersebut, mengingat sebelumnya harga sempat mengalami tekanan hebat. Tercatat bahwa harga emas sempat merosot hingga mencatatkan posisi terendah sejak periode November, menunjukkan volatilitas tinggi yang terjadi sepanjang pekan.

Pada sesi perdagangan tersebut, harga emas di pasar spot menunjukkan peningkatan yang cukup substansial, yaitu melonjak hingga 1,7%. Angka ini merupakan penggandaan dari kenaikan yang sudah teramati pada sesi perdagangan sebelumnya, mengindikasikan adanya pembelian kembali yang agresif.

Meskipun mengalami lonjakan signifikan pada hari Jumat, secara keseluruhan, logam mulia ini masih berada dalam tren yang mengkhawatirkan untuk periode mingguan. Emas diproyeksikan untuk mencatatkan penurunan mingguan keempat secara berturut-turut dalam rentetan yang terpanjang sejak Agustus 2023.

Kenaikan harga emas ini terjadi meskipun logam tersebut masih menghadapi tantangan signifikan dari beberapa faktor fundamental pasar. Salah satu penghambat utama adalah penguatan terus-menerus pada mata uang dolar Amerika Serikat di pasar global.

Selain itu, ekspektasi pasar mengenai sikap yang lebih ketat atau hawkish dari bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, juga menjadi beban bagi pergerakan harga emas. Fed diperkirakan akan mengambil langkah lebih tegas untuk mengendalikan laju inflasi yang masih menjadi perhatian utama.

Pergerakan harga emas yang dramatis ini merupakan hasil analisis dan pengamatan langsung oleh Yihui Xie dan Martin Alfonsin Larsen dari Bloomberg News. Peristiwa ini terjadi di pasar keuangan global, dengan fokus utama pada pergerakan harga di Amerika Serikat.

Dilansir dari Bloomberg, harga emas masih kokoh di jalur pendakian hingga melampaui US$4.000/troy ons pada Jumat waktu AS pasca data inflasi Amerika terbaru meredam ekspektasi kenaikan suku bunga.

Lebih lanjut, mengenai dinamika pasar, para analis mencatat bahwa catatan emas terakhir mengakhiri pekan yang penuh gejolak di mana harga emas sempat anjlok ke level terendah sejak November. Hal ini menunjukkan adanya ketidakpastian yang masih membayangi sentimen investor.