BISNIS.HOTNEWS.ID - Pergerakan harga minyak mentah global saat ini tengah mengarah pada penurunan kuartalan terbesar yang pernah tercatat sejak dunia dilanda pandemi global beberapa tahun lalu. Kondisi ini dipicu oleh sejumlah faktor fundamental di pasar energi internasional.

Faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar adalah peningkatan signifikan dalam volume arus pelayaran melalui Selat Hormuz. Peningkatan ini terjadi seiring dengan adanya kemajuan yang diklaim dalam negosiasi kesepakatan damai di kawasan Timur Tengah.

Kontrak berjangka minyak mentah jenis Brent untuk pengiriman bulan September tercatat diperdagangkan mendekati level US$74 per barel pada penutupan perdagangan terakhir. Angka ini menunjukkan bahwa harga berjangka untuk bulan berikutnya telah mengalami kontraksi hampir sepertiga sepanjang kuartal berjalan.

Penurunan substansial ini, jika dikonfirmasi, akan menjadi kemerosotan kuartalan terbesar yang dialami pasar minyak sejak tahun 2020. Sementara itu, patokan minyak Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), juga terpantau beredar di kisaran US$70 per barel.

Secara terpisah, para analis dari Morgan Stanley telah mengeluarkan peringatan mengenai potensi munculnya kelebihan pasokan minyak di pasar global dalam periode mendatang. Peringatan ini menambah tekanan jual yang sudah ada pada komoditas energi tersebut.

Dilansir dari Bloomberg News, Iran kembali menegaskan pendiriannya terkait kontrol penuh atas lalu lintas maritim yang melintasi Selat Hormuz. Meskipun demikian, data menunjukkan bahwa volume arus kapal tanker mulai menunjukkan peningkatan untuk pertama kalinya pasca serangkaian insiden keamanan di jalur perairan vital tersebut.

Ketika arus minyak mulai menghindari jalur Selat Hormuz, pasokan minyak mentah didorong menuju wilayah geografis yang lebih jauh dari biasanya. Pasar kini tengah berjuang keras untuk menyerap volume tambahan ini, terutama karena adanya solusi alternatif utama yang mulai diterapkan.

Sebagai indikasi nyata dari melemahnya permintaan atau kelebihan pasokan, harga minyak di kawasan Laut Utara dilaporkan ditawarkan dengan diskon terbesar dalam beberapa tahun terakhir pada hari Senin. Hal ini berdampak langsung pada patokan fisik Dated Brent yang mengalami penurunan tajam.

"Arus melalui Selat Hormuz meningkat setelah kemajuan kesepakatan damai, sementara Morgan Stanley memperingatkan potensi kelebihan pasokan di masa mendatang," demikian dikutip dari Bloomberg News.