BISNIS.HOTNEWS.ID - Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung, yang dikenal dengan nama Whoosh, kembali menjadi sorotan utama setelah PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat kerugian investasi yang substansial. Penurunan nilai investasi ini menunjukkan tantangan finansial yang dihadapi oleh perusahaan kereta api milik negara tersebut dalam proyek strategis ini.
Kerugian investasi tersebut terungkap berdasarkan penelaahan terhadap laporan keuangan KAI yang berakhir pada penghujung tahun 2025. Angka kerugian ini menjadi perhatian serius bagi pemangku kepentingan industri transportasi nasional.
Dilansir dari Bloomberg Technoz di Jakarta, KAI menanggung beban kerugian investasi pada konsorsium pengendali Whoosh, yaitu PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI). Kerugian ini terbagi dalam dua periode tahunan yang signifikan.
Secara spesifik, perusahaan mencatat kerugian investasi sebesar Rp2,22 triliun pada tahun 2024. Angka ini kemudian diikuti oleh kerugian yang lebih besar lagi pada tahun berikutnya.
Pada tahun 2025, kerugian investasi yang harus ditanggung KAI tercatat membengkak mencapai Rp2,92 triliun. Kedua angka ini secara kumulatif memberikan dampak besar pada neraca keuangan perseroan.
Posisi kerugian yang sangat tinggi selama dua tahun berturut-turut ini secara langsung menggerus total saldo investasi KAI yang telah disetorkan. Dampak pelemahan ini mulai terlihat jelas pada akhir periode 2025.
Saldo investasi KAI pada awalnya sempat berada di angka Rp7,72 triliun setelah adanya penambahan setoran modal sebesar Rp2,7 triliun pada tahun 2024. Namun, kondisi ini berubah drastis seiring dengan membengkaknya kerugian operasional.
Pada akhir tahun 2025, saldo investasi KAI dilaporkan telah menyusut menjadi hanya tersisa Rp3,24 triliun saja. Kondisi ini menunjukkan adanya penurunan nilai aset investasi yang signifikan.
Dengan membandingkan saldo awal investasi dengan saldo akhir, dapat disimpulkan bahwa total investasi KAI yang "menguap" atau hilang nilainya selama periode dua tahun terakhir mencapai sekitar Rp4,48 triliun.