BISNIS.HOTNEWS.ID - Pergerakan harga emas dunia menunjukkan dinamika yang menarik setelah mengalami penurunan signifikan sepanjang pekan lalu. Meskipun sempat ditutup menguat pada perdagangan penutupan hari Jumat, tren mingguan secara keseluruhan masih mencatatkan koreksi yang cukup dalam.
Pada hari Jumat, 26 Juni 2026, harga emas di pasar spot global ditutup pada level US$ 4.087 per troy ons, memperlihatkan penguatan 1,5% dari hari sebelumnya. Kenaikan harian ini memberikan sedikit nafas lega bagi para investor logam mulia tersebut.
Namun, lonjakan singkat tersebut tidak mampu membalikkan sentimen negatif mingguan, di mana harga emas global dilaporkan anjlok sebesar 1,56% secara point-to-point. Penurunan ini menandai rentetan koreksi harga emas selama empat minggu berturut-turut.
Rentetan penurunan mingguan yang terjadi selama empat pekan ini merupakan periode koreksi terpanjang yang dialami emas sejak Agustus 2023. Tekanan utama yang memicu koreksi ini adalah menguatnya mata uang dolar Amerika Serikat (AS) di pasar global.
Emas yang secara tradisional dihargai dalam dolar AS menjadi kurang menarik bagi investor pemegang mata uang lain ketika greenback terapresiasi. Pekan lalu, Dollar Index, yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama, tercatat menguat sebesar 0,51%.
Penguatan dolar AS ini didorong oleh sikap hawkish dari bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed). Pernyataan dari rapat Komite Pengambil Kebijakan (FOMC) mengindikasikan komitmen The Fed terhadap stabilitas harga dan target inflasi 2%.
Berdasarkan proyeksi dot plot terbaru dari FOMC, mayoritas anggota dewan melihat kemungkinan kenaikan suku bunga acuan satu hingga dua kali sepanjang tahun ini. Hal ini semakin memperkuat daya tarik dolar dibandingkan aset non-imbal hasil seperti emas.
Charu Chanana, Chief Investment Strategist di Saxo Markets, memberikan pandangannya mengenai situasi pasar saat ini. "Saat situasi pasar sedang dalam tekanan, investor kerap kali menjual apa yang bisa dijual, bukan apa yang mereka mau jual. Emas sudah menjadi pemenang dalam setahun terakhir, sehingga bisa menjadi sumber dana Ketika dibutuhkan," kata Charu Chanana, seperti diberitakan Bloomberg News.
Menilik prospek perdagangan pekan ini, analisis teknikal dengan kerangka waktu mingguan menunjukkan bahwa emas masih terperangkap dalam zona bearish. Indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari menunjukkan angka 37, yang berada di bawah batas 50 dan mengindikasikan tren penurunan.