BISNIS.HOTNEWS.ID - Pergerakan nilai tukar Rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) pada Kamis (23/7/2027) pagi menunjukkan dinamika yang menarik, di mana mata uang Garuda berhasil mencuri momentum penguatan.

Pada awal perdagangan, Rupiah di pasar offshore tercatat mengalami pelemahan terbatas sebesar 0,01% terhadap Dolar Amerika Serikat, berada di angka Rp17.967 per USD pada pukul 07.45 WIB.

Namun, situasi berbalik menjelang pembukaan pasar spot. Rupiah offshore berhasil mendapatkan tenaga tambahan dan membukukan penguatan sebesar 0,04%, mencapai posisi Rp17.958 per USD pada pukul 08.27 WIB.

Pergerakan Rupiah sempat mengalami hambatan akibat adanya lonjakan harga minyak mentah dunia. Harga komoditas energi tersebut dilaporkan kembali naik 1,65%, mencapai level US$95,62 per barel.

Kenaikan harga minyak ini terjadi di tengah sedikit terpangkasnya indeks Dolar Amerika Serikat (AS) yang turun 0,03% menjadi 101,09 poin.

Gejolak pada harga minyak mentah dipicu oleh klaim kelompok Houthi di Yaman yang menyatakan telah melakukan serangan terhadap dua kapal tanker minyak di Laut Merah.

Serangan tersebut diklaim sebagai respons atas ancaman pembukaan lini pertempuran baru dalam konflik yang melibatkan Iran.

Meskipun demikian, pergerakan mata uang di kawasan Asia secara umum menunjukkan stabilitas yang relatif baik. Won Korea Selatan tampil memimpin dengan penguatan signifikan sebesar 0,3%.

Diikuti oleh baht Thailand, yen Jepang, dolar Singapura, yuan offshore, dan dolar Hong Kong yang juga mencatat penguatan, meskipun dalam skala yang sangat terbatas.