BISNIS.HOTNEWS.ID - Pekan ini diprediksi menjadi periode krusial yang akan menentukan arah pergerakan pasar keuangan secara global. Investor dari berbagai belahan dunia tengah menahan napas menantikan serangkaian rilis data ekonomi penting.

Perhatian utama akan terpusat pada dua agenda besar yang dijadwalkan berlangsung. Agenda pertama adalah pengumuman data ketenagakerjaan Amerika Serikat untuk periode bulan Juni mendatang.

Agenda kedua yang tak kalah penting adalah Forum ECB on Central Banking yang akan diselenggarakan di Portugal. Forum ini akan menjadi ajang pertemuan para gubernur bank sentral utama dunia.

Rangkaian data tersebut sangat dinantikan karena akan memberikan petunjuk mengenai ketahanan ekonomi global saat ini. Ketahanan ini diuji oleh kondisi suku bunga yang masih cenderung tinggi dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik yang sedang terjadi.

Di kawasan Asia, fokus pasar juga sangat terarah pada beberapa indikator kunci. Pasar akan mencermati Purchasing Managers' Index (PMI) dari China, data inflasi Indonesia dan Korea Selatan, serta perkembangan terkini dari negosiasi dagang antara China dan Uni Eropa.

Secara spesifik di Asia, pasar akan mengamati perkembangan sektor manufaktur dan tekanan inflasi yang terjadi. PMI China diperkirakan akan kembali menampilkan gambaran yang kontradiktif antara sektor ekspor dan konsumsi domestik.

Diperkirakan sektor ekspor China masih mendapat dukungan yang cukup baik dari permintaan global. Namun, konsumsi domestik di negara tersebut dinilai belum menunjukkan pemulihan yang solid seperti yang diharapkan.

Sementara itu, survei Tankan di Jepang diprediksi akan mengindikasikan bahwa dunia usaha di sana tetap mempertahankan optimisme mereka. Optimisme ini didorong oleh kuatnya kinerja sektor ekspor dan permintaan domestik yang stabil.

Kondisi tersebut turut memperkuat ekspektasi bahwa Bank of Japan (BOJ) akan melanjutkan langkah normalisasi kebijakan moneter yang telah mereka rencanakan.