BISNIS.HOTNEWS.ID - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI memberikan tanggapan resmi terkait keputusan Kementerian Keuangan yang kembali menyalurkan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) kepada Himpunan Bank-bank Milik Negara (Himbara), termasuk BRI sendiri.
Keputusan ini dipandang sebagai langkah strategis yang signifikan dalam konteks menjaga kesehatan sistem keuangan dan mendukung roda perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Langkah ini menyentuh isu krusial mengenai manajemen likuiditas di sektor perbankan.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menjelaskan bahwa pengalokasian dana tersebut memiliki tujuan ganda, yaitu memastikan kecukupan likuiditas perbankan nasional tetap terjaga prima sekaligus menjamin fungsi intermediasi berjalan optimal. Fungsi intermediasi ini sangat vital untuk menyalurkan pembiayaan demi pertumbuhan ekonomi nasional.
Kebijakan ini menegaskan pentingnya kolaborasi erat antara otoritas fiskal, dalam hal ini Kementerian Keuangan, dengan industri perbankan yang diwakili oleh Himbara. Sinergi ini merupakan fondasi utama dalam menjaga stabilitas sistem keuangan yang telah terbangun.
Selain menjaga stabilitas, sinergi tersebut juga dipandang sebagai upaya untuk memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi yang sedang berlangsung di tanah air. Hal ini menunjukkan adanya koordinasi kebijakan makroekonomi yang terpadu.
Hery Gunardi menyatakan apresiasinya terhadap langkah pemerintah tersebut dalam sebuah keterangan tertulis yang dirilis pada hari Senin, 29 Juni 2026. Pernyataan ini menggarisbawahi pandangan positif dari pihak bank BUMN terhadap kebijakan tersebut.
"Kebijakan ini menjadi langkah positif untuk memperkuat likuiditas perbankan sehingga kapasitas intermediasi dalam mendukung pembiayaan sektor-sektor produktif," ujar Hery Gunardi.
Lebih lanjut, Direktur Utama BRI menekankan bahwa tambahan likuiditas yang diterima akan dimanfaatkan dengan sangat hati-hati dan terukur. BRI berkomitmen untuk tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang solid dalam setiap penyalurannya.
Dilansir dari Bloomberg Technoz, langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan bank-bank BUMN dalam menyalurkan kredit produktif yang menjadi motor penggerak utama pemulihan dan pertumbuhan ekonomi pasca ketidakpastian.