BISNIS.HOTNEWS.ID - Sektor manufaktur di Indonesia dilaporkan tengah menghadapi fase tekanan yang cukup signifikan dalam operasionalnya belakangan ini. Tantangan ini tidak datang dari satu sisi saja, melainkan merupakan kombinasi dari hambatan di lini produksi sekaligus pelemahan permintaan dari masyarakat.

Hal ini disampaikan langsung oleh Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Febri Hendri Antoni Arief, mengenai situasi terkini yang memengaruhi kinerja industri dalam negeri. Tekanan ganda ini menciptakan lingkungan bisnis yang semakin kompleks bagi para pelaku industri.

Secara spesifik, tantangan dari sisi produksi diidentifikasi berkaitan erat dengan faktor eksternal dan domestik. Salah satu isu utama adalah peningkatan biaya perolehan bahan baku yang sebagian besar masih bergantung pada impor.

Kenaikan biaya bahan baku impor ini diperparah oleh fluktuasi nilai tukar rupiah yang menunjukkan pelemahan terhadap mata uang asing. Kondisi ini turut dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global yang terus berubah-ubah dan menciptakan ketidakpastian pasar.

Selain isu finansial terkait nilai tukar, operasional pabrik juga terganggu oleh masalah infrastruktur dasar. Gangguan pasokan listrik di beberapa wilayah menjadi kendala serius yang memaksa pabrik menghentikan aktivitas sementara waktu.

"Dari sisi produksi, pertama itu adalah kenaikan harga bahan baku impor akibat pelemahan nilai tukar rupiah karena dampak geopolitik. Ditambah dengan pemadaman listrik," jelas Febri Hendri Antoni Arief.

Ketergantungan penuh pada listrik menjadi titik lemah bagi banyak unit produksi ketika terjadi pemadaman mendadak. Hal ini berdampak langsung pada terhentinya proses produksi secara keseluruhan.

"Ada sebagian industri yang operasionalnya itu sepenuhnya bergantung kepada listrik. Tiba-tiba listriknya padam, mereka berhenti produksi karyawannya dipulangkan," tutur Febri saat dimintai keterangan di kantor Kemenperin, Jakarta Selatan, pada Selasa (30/6/2026).

Dilansir dari sumber berita terkait, pernyataan ini menegaskan bahwa gangguan listrik bukan hanya menyebabkan keterlambatan, tetapi memaksa pabrik menghentikan sementara kegiatan dan memulangkan pekerja.