BISNIS.HOTNEWS.ID - Perkembangan signifikan dalam hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran tampaknya telah mencapai titik terang. Presiden AS Donald Trump mengumumkan secara resmi mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran vital tersebut.
Pengumuman ini disampaikan oleh Trump melalui platform media sosial pribadinya, Truth Social, pada hari Minggu (14/6) waktu setempat. Pembukaan kembali Selat Hormuz dijadwalkan akan terjadi pada hari Jumat mendatang, yakni tanggal 19 Juni.
Keputusan ini terikat erat dengan syarat spesifik, yaitu harus ada penandatanganan resmi perjanjian damai antara kedua negara. Hal ini menandai langkah konkret menuju normalisasi ekonomi dan maritim di kawasan tersebut.
Evaluasi Serius Realisasi Investasi Asing, Presiden Prabowo Gelar Rapat Khusus di Akhir Pekan
"Dengan dibukanya kembali Selat setelah penandatanganan Perjanjian pada hari Jumat untuk keperluan pembersihan ranjau, minyak akan kembali mengalir di kedua ujungnya bagi kawasan tersebut, dan juga dunia!" ujar Trump.
Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance memberikan konfirmasi mengenai kemajuan ini pada hari yang sama, yakni hari Minggu (14/6). Vance menyebut bahwa kesepakatan yang berhasil dicapai dengan Teheran merupakan tonggak penting bagi Amerika Serikat.
Meskipun demikian, Vance juga bersikap realistis mengenai tantangan yang masih ada di depan mata pasca kesepakatan tersebut. Ia mengakui bahwa implementasi penuh perjanjian memerlukan waktu dan upaya berkelanjutan.
"Saya tidak akan mengatakan bahwa semua orang akan langsung bernyanyi gembira besok," kata Vance dalam sebuah sesi wawancara yang disiarkan di Fox News.
Vance melanjutkan pandangannya mengenai proses implementasi perdamaian yang baru dirintis ini. Ia menekankan bahwa meskipun ada hambatan, langkah yang diambil sudah sangat substansial.
"Akan butuh sedikit waktu untuk mempelajari jalan perdamaian, tetapi saya benar-benar berpikir kita telah mengambil langkah yang sangat, sangat besar malam ini," kata Vance.