BISNIS.HOTNEWS.ID - Mengapa harga jual Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) tetap stabil dan tidak mengalami penyesuaian turun pada bulan Juli? Fenomena ini menarik perhatian publik mengingat adanya tren perubahan harga pada jenis BBM nonsubsidi lainnya.
Penjabat senior di industri minyak dan gas bumi, Hadi Ismoyo, memberikan pandangannya mengenai kebijakan harga yang diterapkan oleh PT Pertamina (Persero) tersebut. Menurutnya, keputusan ini berkaitan erat dengan strategi keuangan internal perseroan.
Hadi Ismoyo, yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Petrogas Jatim Utama Cendana, menilai bahwa mempertahankan harga Pertamax adalah langkah taktis untuk menjamin stabilitas arus kas perusahaan BUMN tersebut. Keputusan ini diyakini bukan semata-mata mengikuti pergerakan harga pasar global secara langsung.
"Harga seluruh BBM nonsubsidi seharusnya belum waktunya turun jika mengacu pada indikator makro yang digunakan menyusun harga jual BBM," ujar Hadi Ismoyo. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa perhitungan harga jual masih didasarkan pada parameter tertentu yang belum terpenuhi untuk memicu penurunan harga.
Mengacu pada indikator makro yang menjadi acuan, Hadi memaparkan data rata-rata harga minyak mentah sepanjang tahun berjalan. Harga rata-rata minyak mentah global tercatat berada di level US$88 per barel.
Selain itu, faktor nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga menjadi pertimbangan penting dalam perhitungan keekonomian BBM. Hadi menyebutkan bahwa kurs rupiah yang digunakan dalam estimasi adalah Rp17.200 per US$ pada periode tersebut.
Berdasarkan data makro tersebut, Hadi melakukan estimasi mengenai harga dasar Pertamax di tingkat kilang. "Dengan demikian, harga dasar Pertamax diestimasikan senilai Rp15.700/liter," ungkap Hadi Ismoyo.
Setelah harga dasar tersebut ditetapkan, perlu ditambahkan komponen biaya lain sebelum sampai ke konsumen. Biaya distribusi dan berbagai komponen pajak turut diperhitungkan dalam penentuan harga jual akhir di SPBU.
Jika semua biaya tambahan tersebut dijumlahkan, nilai keekonomian riil dari Pertamax diperkirakan mencapai angka yang sangat mendekati harga jual yang berlaku. "Setelah harga dasar tersebut ditambah dengan biaya distribusi dan pajak, nilai keekonomiannya dapat mencapai Rp16.200/liter," jelas Hadi.