BISNIS.HOTNEWS.ID - Wabah Ebola yang sedang berlangsung di Republik Demokratik Kongo (Kongo) diproyeksikan akan menimbulkan kerugian signifikan bagi perekonomian negara tersebut, mencapai lebih dari US$1 miliar atau setara dengan Rp18 triliun. Proyeksi ini disampaikan berdasarkan penilaian terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dampak ekonomi yang diperkirakan sangat besar ini juga berpotensi mendorong hampir satu juta penduduk tambahan jatuh ke dalam jurang kemiskinan. Selain itu, penyebaran penyakit ini juga dikhawatirkan memicu dampak berantai ke negara-negara tetangga.
Hal ini terjadi seiring dengan upaya keras otoritas setempat untuk mengendalikan penyebaran penyakit mematikan tersebut di salah satu kawasan paling rentan di benua Afrika. Wabah ini telah menjadi perhatian utama komunitas internasional.
Menurut Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) dalam sebuah dokumen yang dirilis pekan ini, wabah yang secara resmi dinyatakan dimulai pada 15 Mei tersebut dikategorikan sebagai "keadaan darurat pembangunan yang kompleks."
UNDP menekankan bahwa status darurat pembangunan ini menunjukkan bahwa wabah tersebut bukan sekadar krisis kesehatan yang bersifat lokal atau terbatas pada isu medis semata. Ini melibatkan dimensi sosial dan ekonomi yang luas.
Bahkan dalam skenario yang relatif terkendali, di mana penularan sebagian besar terbatas pada Republik Demokratik Kongo dan Uganda—tempat lebih dari 400 jiwa telah meninggal dunia—dampak kerugian ekonomi Afrika diperkirakan mencapai US$2,37 miliar.
Kerugian sebesar itu timbul akibat terganggunya aktivitas perdagangan, keterlambatan dalam sektor transportasi, serta pengetatan pengawasan yang diterapkan di berbagai titik perbatasan antarnegara. Estimasi ini mencerminkan biaya tidak langsung dari penanganan epidemi.
Dilansir dari Bloomberg, jika wabah diperparah oleh gejolak geopolitik yang lebih luas serta gangguan signifikan pada rantai pasok global, kerugian ekonomi tersebut berpotensi membengkak drastis hingga mencapai angka US$3,6 miliar.
Menyoroti sifat penyebaran penyakit ini, Ahunna Eziakonwa, yang menjabat sebagai Asisten Sekretaris Jenderal PBB sekaligus Direktur Regional UNDP untuk Afrika, memberikan penekanan penting.