BISNIS.HOTNEWS.ID - Wilayah tengah dan selatan Republik Rakyat Tiongkok saat ini sedang menghadapi dampak serius dari cuaca ekstrem berupa hujan lebat yang berkelanjutan. Intensitas curah hujan tinggi ini telah mengakibatkan kerugian signifikan, termasuk korban jiwa dan kerusakan pada sektor pertanian di berbagai daerah.
Bencana hidrometeorologi ini diperkirakan akan semakin memburuk dalam beberapa hari ke depan. Pasalnya, ancaman cuaca yang jauh lebih ekstrem berupa sebuah topan kuat sedang dalam perjalanannya menuju pesisir timur Tiongkok pada akhir pekan ini.
Berdasarkan pembaruan informasi yang disampaikan oleh China Central Television (CCTV) melalui keterangan pejabat setempat, sedikitnya 15 orang telah dipastikan meninggal dunia. Korban jiwa tersebut tersebar di Provinsi Hubei dan Guangxi, sementara ribuan penduduk terpaksa harus dievakuasi dari zona bahaya.
Fenomena curah hujan ekstrem dan banjir bandang yang terjadi kali ini disebabkan oleh beberapa faktor meteorologis yang kompleks. Ahli Meteorologi Ye Menglong memberikan penjelasan mengenai pemicu utama situasi ini kepada China Weather Network.
"Lambatnya proses disipasi badai tropis Maysak saat berada di daratan menjadi faktor kunci, karena badai tersebut terus menarik aliran udara monsun yang sarat akan kelembapan dari arah selatan," jelas Ye Menglong.
Hujan lebat dengan volume massa ekstrem telah mengguyur Nanning, ibu kota Provinsi Guangxi, sejak tanggal 4 Juli lalu. Kondisi ini memicu kerusakan infrastruktur vital di wilayah tersebut.
Dilansir dari Kantor Berita Xinhua, sebuah tanggul krusial di Waduk Liulan dilaporkan jebol pada Senin pagi. Kejadian ini memaksa pemerintah kota untuk segera menaikkan status tanggap darurat pengendalian banjir menjadi tingkat tertinggi demi mitigasi risiko lebih lanjut.
Lebih lanjut, dampak dari terjangan badai ini juga dirasakan pada sektor energi, di mana lebih dari 59.000 warga mengalami pemadaman listrik. Informasi ini disampaikan oleh China Electric Power News mengenai kondisi di sepanjang provinsi terdampak.
Menindaklanjuti peningkatan risiko, Pusat Hidrologi Guangxi secara resmi menaikkan peringatan banjir ke tingkat paling parah pada Selasa (7/7/2026) pagi. Peringatan tersebut berlaku untuk delapan kota besar, termasuk Nanning dan destinasi wisata populer, Guilin.