BISNIS.HOTNEWS.ID - Kesepakatan damai yang terjalin antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kini mulai memberikan sinyal positif bagi perekonomian global, termasuk sektor industri di dalam negeri. Salah satu sektor yang sempat merasakan dampak langsung dari potensi gangguan geopolitik adalah industri pengolahan bahan baku plastik.
Gangguan pada jalur pelayaran strategis, khususnya Selat Hormuz, sempat menimbulkan kekhawatiran serius mengenai kelancaran impor dan ketersediaan bahan baku krusial bagi pabrikan plastik di Indonesia. Situasi ini mendorong pemerintah untuk memantau ketat dinamika pasokan internasional.
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin), Faisol Riza, memberikan pandangan mengenai kondisi terkini ketersediaan bahan baku plastik yang dibutuhkan oleh industri nasional. Meskipun ada perkembangan positif di tingkat global, ia menekankan kehati-hatian dalam menyimpulkan situasi.
Menurut pengamatannya, status keamanan pasokan bahan baku plastik untuk kebutuhan industri secara keseluruhan belum dapat dikategorikan sepenuhnya aman dalam jangka panjang. Hal ini menunjukkan bahwa kewaspadaan tetap diperlukan meskipun ada meredanya ketegangan internasional.
Namun demikian, Wamenperin memastikan bahwa dari sisi kuantitas saat ini, stok yang tersedia sudah memadai untuk menopang kebutuhan produksi yang sedang berjalan. Ketersediaan ini menjadi kunci agar roda industri tidak terhenti akibat hambatan suplai.
Faisol Riza menyampaikan secara spesifik mengenai kondisi terkini stok bahan baku tersebut saat memberikan keterangan pers di Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, pada hari Kamis, 18 Juni 2026. Lokasi ini menjadi pusat pengambilan kebijakan terkait industri nasional.
Ia menggarisbawahi bahwa situasi saat ini berada pada titik yang mendukung produksi, meskipun belum mencapai level aman secara definitif. "Belum bisa disebut aman, tapi untuk memenuhi kebutuhan produksi sudah aman," ujarnya di Kemenperin, Jakarta Selatan, Kamis (18/6/2026).
Dilansir dari sumber terkait perkembangan industri, pernyataan Wamenperin tersebut memberikan kejelasan bahwa meskipun stabilitas total belum terjamin, operasi produksi harian manufaktur plastik dipastikan tetap berjalan lancar berkat manajemen stok yang ada. Perkembangan hubungan AS-Iran menjadi faktor eksternal yang terus dipantau dampaknya terhadap harga dan volume impor ke depan.