BISNIS.HOTNEWS.ID - Gelombang panas dengan suhu yang memecahkan rekor terus membakar daratan Eropa, dan Prancis menjadi salah satu negara yang mencatat dampak signifikan dari fenomena cuaca ekstrem ini. Otoritas kesehatan setempat mengonfirmasi adanya lonjakan signifikan dalam angka kematian selama periode tersebut.

Secara spesifik, Prancis dilaporkan telah mencatat sekitar 1.000 kematian berlebih selama minggu berjalan akibat gelombang panas yang digambarkan sebagai "luar biasa" oleh pihak berwenang. Kejadian ini menyoroti kerentanan populasi terhadap perubahan iklim dan suhu tinggi yang berkepanjangan.

Fenomena peningkatan angka kematian ini terlihat jelas dari data harian yang dirilis oleh otoritas kesehatan masyarakat setempat. Suhu yang mencapai titik rekor mendorong angka kematian harian melampaui batas normal yang tercatat sebelumnya.

"Suhu rekor mendorong angka kematian harian di atas 1.400 pada Kamis dan Jumat, naik dari 900 hingga 1.000 per hari pada April dan Mei," demikian disampaikan oleh Santé Publique France dalam sebuah pernyataan resmi pada hari Minggu.

Data yang dipublikasikan tersebut masih bersifat sementara dan diperkirakan akan mengalami penyesuaian lebih lanjut di masa mendatang. Otoritas kesehatan masyarakat Prancis memberikan catatan mengenai metodologi penghitungan angka kematian tersebut.

Angka-angka tersebut kemungkinan akan direvisi lebih tinggi karena didasarkan pada sertifikat digital, yang biasanya mencakup sekitar 60% dari total kematian di seluruh negeri, kata otoritas kesehatan masyarakat tersebut.

Lebih lanjut, analisis menunjukkan bahwa kelompok lansia menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dampak fatal dari gelombang panas yang melanda. Proporsi kematian yang tinggi terpusat pada populasi usia lanjut.

"Dari jumlah kematian yang tercatat sejak Rabu, 85% di antaranya adalah orang berusia 65 tahun ke atas, demikian menurut pernyataan tersebut," jelas Santé Publique France mengenai distribusi korban jiwa.

Artikel ini ditulis berdasarkan informasi yang pertama kali dipublikasikan oleh Francois de Beaupuy dari Bloomberg News. Dilansir dari Bloomberg, situasi ini menjadi pengingat serius mengenai adaptasi terhadap kondisi iklim yang semakin ekstrem di masa depan.