BISNIS.HOTNEWS.ID - Fenomena "Lipstick Theory" kembali menjadi perbincangan hangat di pasar modal Indonesia menyusul pergeseran perilaku belanja konsumen. Teori ini mengindikasikan bahwa sektor ritel tetap mendapatkan penopang meskipun terjadi selektivitas pengeluaran oleh masyarakat.

Perilaku konsumen saat ini menunjukkan kecenderungan untuk menunda pembelian aset bernilai besar. Sebagai gantinya, alokasi dana lebih banyak diarahkan pada produk yang masuk kategori affordable luxury.

Produk-produk yang termasuk dalam kategori mewah terjangkau ini mencakup sektor fesyen, kebutuhan kecantikan, serta berbagai kebutuhan gaya hidup lainnya. Pergeseran fokus pengeluaran ini menjadi indikator penting bagi kinerja emiten ritel.

Tren belanja yang terjadi saat ini diperkirakan akan memberikan keuntungan signifikan bagi beberapa emiten yang bergerak di sektor terkait. Dua nama yang masuk dalam sorotan adalah PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dan PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA).

Di sisi lain, tidak semua pemain ritel merasakan dampak positif yang sama dari tren tersebut. Salah satu perusahaan yang masih menghadapi tantangan adalah PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES).

Tantangan yang dihadapi ACES ini terutama berasal dari perlambatan yang masih terjadi dalam segmen home improvement atau kebutuhan rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa dampak lipstick theory tidak merata di seluruh sektor ritel.

Mengomentari kondisi daya beli masyarakat, Analis Panin Sekuritas, Novi Vianita, memberikan pandangannya mengenai struktur belanja saat ini.

"Daya beli masyarakat masih ditopang oleh segmen menengah atas yang relatif resilien," jelas Novi Vianita.

Dilansir dari Bloomberg Technoz, Jakarta, analisis ini menggarisbawahi bahwa segmen konsumen dengan kemampuan finansial yang lebih kuat tetap menjadi penopang utama belanja untuk barang-barang kategori affordable luxury tersebut.