BISNIS.HOTNEWS.ID - Perkembangan situasi di kawasan Teluk Persia menunjukkan adanya ujian signifikan terhadap periode relaksasi hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Dua insiden terpisah yang terjadi pada hari Sabtu menambah lapisan ketegangan baru pasca penandatanganan kesepakatan perdamaian sementara antara kedua negara awal bulan ini.
Insiden pertama melibatkan Kerajaan Bahrain, yang mengumumkan bahwa negara tersebut menjadi sasaran serangan menggunakan wahana nirawak (drone) yang diduga kuat berasal dari Iran. Kejadian ini meningkatkan kewaspadaan mengingat Bahrain merupakan lokasi markas dari Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat.
Kementerian Luar Negeri Bahrain menyampaikan informasi mengenai serangan drone tersebut pada Sabtu pagi, sebagaimana disiarkan oleh kantor berita resmi pemerintah, BNA. Negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah bagi pangkalan militer Amerika Serikat dan ribuan personel AS telah berulang kali menjadi target spekulatif dari Teheran sejak konflik besar dilancarkan pada akhir Februari.
Sementara itu, lokasi kedua yang mengalami insiden adalah perairan strategis Selat Hormuz, di mana sebuah kapal tanker dilaporkan terkena hantaman proyektil yang belum teridentifikasi. Informasi ini disampaikan oleh sebuah kelompok angkatan laut yang berbasis di Inggris pada hari yang sama, yaitu hari Sabtu.
Meskipun terjadi insiden tersebut, data pelacakan kapal menunjukkan bahwa aktivitas pelayaran komersial dan militer tetap berlangsung di jalur air vital tersebut pada Sabtu pagi. Hal ini mengindikasikan upaya untuk menjaga arus navigasi tetap berjalan di tengah situasi yang memanas.
Menanggapi eskalasi yang terjadi, Iran mengklaim bahwa mereka telah melakukan penargetan terhadap beberapa instalasi yang dimiliki AS di kawasan Teluk Persia pada hari yang sama. Klaim ini datang sebagai respons atas serangan yang sebelumnya dilakukan oleh AS terhadap instalasi radar dan penyimpanan rudal Iran pada hari Jumat.
Serangkaian serangan ini tampaknya merupakan reaksi berantai yang dipicu oleh insiden sebelumnya, yaitu serangan drone Iran terhadap kapal kontainer di perairan Hormuz. Serangan kontainer tersebut kemudian memicu serangan balasan dari pihak AS pada hari Kamis, yang kini dibalas Iran pada hari Sabtu.
Dilansir dari Bloomberg News, Arsalan Shahla dan Sara Gharaibeh melaporkan bahwa insiden ini secara langsung menguji keberlanjutan dari "detente" atau upaya meredakan ketegangan yang telah dibangun melalui kesepakatan sementara.
"Sejumlah drone Iran menargetkan negara itu, yang merupakan markas Armada ke-5 Angkatan Laut AS, pada Sabtu pagi," jelas pernyataan resmi yang disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri Bahrain melalui BNA.