BISNIS.HOTNEWS.ID - Gubernur Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh, baru-baru ini menyampaikan pandangannya mengenai perkembangan risiko inflasi di Amerika Serikat. Ia secara eksplisit menyatakan bahwa dalam beberapa pekan terakhir, potensi kenaikan harga telah menunjukkan tren penurunan yang signifikan.
Warsh kembali menekankan bahwa The Fed memiliki komitmen kuat untuk mengembalikan tingkat inflasi ke target resmi yang telah ditetapkan, yaitu sebesar 2%. Penegasan ini merupakan bagian penting dari mandat stabilitas harga yang diemban oleh bank sentral AS.
Pernyataan kunci tersebut disampaikan oleh Warsh saat menghadiri Forum tahunan Bank Sentral Eropa (ECB) mengenai Perbankan Sentral. Lokasi acara bergengsi tersebut adalah di Sintra, Portugal, pada hari Rabu, tanggal 1 Juli.
Dalam forum tersebut, ia mengonfirmasi observasi mengenai pergerakan harga saat ini. "Ekspektasi inflasi selama empat minggu pertama periode ini telah turun, risiko inflasi juga telah berkurang," ujar Warsh.
Pernyataan ini memperkuat kembali pesan yang telah ia sampaikan sebelumnya dalam konferensi pers perdananya sebagai gubernur The Fed bulan lalu. Pada saat itu, ia telah menegaskan bahwa bank sentral akan berupaya keras mewujudkan stabilitas harga bagi perekonomian.
Reaksi pasar keuangan tidak lama setelah pernyataan tersebut bergema di Eropa. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS atau Treasury dengan tenor dua tahun mengalami penurunan tajam.
Penurunan imbal hasil tersebut mencapai level terendah dalam sesi perdagangan hari itu, tercatat bergerak di kisaran 4,15% pada pukul 10.25 pagi waktu New York. Hal ini menunjukkan respons pasar terhadap sinyal meredanya tekanan inflasi.
Meskipun memberikan pandangan optimis, Warsh tidak merinci secara spesifik indikator harga mana yang menjadi fokus pantauannya saat ini. Ia mempertahankan fokus pada gambaran besar stabilitas harga.
Dilansir dari Bloomberg News, indikator inflasi acuan The Fed sebelumnya sempat menunjukkan lonjakan signifikan, yakni sebesar 4,1% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, inflasi inti, yang mengecualikan energi dan pangan, tercatat naik sebesar 3,4%.