BISNIS.HOTNEWS.ID - Sebuah potensi pergeseran signifikan dalam dinamika pasokan energi global tengah mengemuka, di mana volume besar minyak mentah yang saat ini tertahan di Teluk Persia bersiap untuk bergerak menuju pasar Asia. Pelepasan gelombang minyak ini terjadi setelah wilayah tersebut sempat mengalami penutupan pasokan dalam beberapa minggu terakhir.
Adapun komoditas yang tertahan ini diperkirakan mencapai volume masif, melibatkan sekitar 31 kapal supertanker yang memiliki kapasitas angkut total sekitar 62 juta barel minyak mentah. Data mengenai jumlah kapal tersebut diperoleh berdasarkan informasi dari Signal Group.
Lokasi strategis di mana kapal-kapal ini tertahan adalah di perairan Teluk Persia, dekat dengan Selat Hormuz, yang merupakan jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi dunia. Mereka kini dalam posisi siaga untuk berlayar segera setelah kondisi perairan memungkinkan.
Para analis memperkirakan bahwa jumlah sebenarnya dari minyak yang tertahan bisa jadi lebih tinggi dari perhitungan awal. Hal ini disebabkan oleh kemungkinan adanya beberapa kapal tanker yang sengaja mematikan sistem transponder satelit mereka.
Ledakan pasokan minyak ini diprediksi akan terjadi dalam waktu dekat, menyusul adanya prospek nyata bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran akan mencapai kesepakatan sementara mengenai isu-isu regional. Kesepakatan inilah yang menjadi kunci pembukaan kembali jalur Selat Hormuz.
Dilansir dari Bloomberg News, Yongchang Chin, Nicholas Lua, dan Serene Cheong menjadi tim penulis yang memantau perkembangan situasi krusial ini. Pergerakan kapal-kapal ini sangat bergantung pada perkembangan diplomatik yang sedang berlangsung.
"Sekitar 31 kapal supertanker, yang mampu membawa sekitar 62 juta barel minyak mentah, terjebak di Teluk Persia dan siap berlayar keluar begitu jalur air dibuka," demikian data yang diperoleh dari Signal Group.
Lebih lanjut, mengenai potensi perbedaan angka, dinyatakan bahwa "Jumlah sebenarnya mungkin masih lebih tinggi, dengan beberapa kapal mungkin mematikan transponder satelit mereka," menurut analisis data terkini.
Peristiwa pembukaan jalur laut ini akan berpotensi memicu perubahan signifikan pada neraca penawaran dan permintaan minyak di kawasan Asia, yang sebelumnya telah berupaya menanggulangi defisit pasokan belakangan ini.