BISNIS.HOTNEWS.ID - Aktivitas sektor manufaktur di Indonesia menunjukkan tanda-tanda perlambatan signifikan pada pertengahan tahun 2026, sebagaimana tercermin dari anjloknya Purchasing Managers' Index (PMI) ke level 46,9 di bulan Juni. Angka di bawah 50 ini mengindikasikan adanya fase kontraksi atau pelemahan dalam sektor vital perekonomian tersebut.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia segera memberikan pandangan mengenai dinamika yang mendorong kemunduran ini. Menurut pandangan mereka, salah satu pemicu utama yang turut memperparah situasi industri adalah tekanan yang ditimbulkan oleh pergerakan nilai tukar mata uang domestik.

Dilansir dari Bloomberg Technoz, Kadin mengidentifikasi bahwa depresiasi Rupiah memberikan beban tambahan yang substansial terhadap struktur biaya operasional perusahaan manufaktur di dalam negeri. Hal ini secara langsung berdampak pada kenaikan ongkos produksi.

"Tekanan pada sektor industri juga diperburuk oleh nilai tukar Rupiah, sehingga mendongkrak biaya produksi bahan baku impor," kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Fiskal, Moneter, dan Industri Keuangan Kamrussamad kepada Bloomberg Technoz, Kamis (2/7/2026).

Kondisi pelemahan Rupiah ini terlihat nyata di pasar keuangan internasional. Tercatat pada Kamis pagi, 07:30 WIB, pergerakan mata uang Garuda berada di posisi Rp18.018 per Dolar Amerika Serikat di pasar luar negeri.

Namun, pelemahan mata uang bukanlah satu-satunya faktor yang disorot oleh Kadin dalam analisis kontraksi manufaktur ini. Terdapat faktor fundamental lainnya yang turut berperan dalam menekan indeks manufaktur kembali ke zona kontraksi.

Menurut Kamrussamad, faktor signifikan lainnya adalah melemahnya permintaan yang datang dari pasar, baik itu permintaan domestik maupun permintaan yang berasal dari pasar ekspor. Penurunan permintaan ini menjadi indikator utama adanya perlambatan.

Melemahnya permintaan secara agregat ini kemudian berimbas langsung pada berkurangnya volume pekerjaan yang masuk ke pabrik-pabrik. Hal ini mendorong penurunan tajam dalam jumlah pesanan baru yang diterima oleh sektor manufaktur.

"Menurutnya, faktor utama berasal dari melemahnya permintaan terhadap produk manufaktur baik di pasar domestik maupun eskpor. Seingga, hal ini membuat mendorong jumlah pesanan baru menurun," demikian disampaikan oleh Kamrussamad, merangkum temuan Kadin mengenai kondisi pasar saat itu.