BISNIS.HOTNEWS.ID - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Amerika Serikat (AS) mengambil langkah militer balasan. Tindakan ini dilakukan sebagai respons langsung atas insiden penyerangan terhadap sebuah kapal komersial berbendera Singapura.
Peristiwa eskalasi ini terjadi pada hari Jumat, tepatnya tanggal 26 Juni kemarin. Serangan balasan AS tersebut ditujukan kepada sasaran-sasaran strategis di wilayah Iran yang dianggap bertanggung jawab atas insiden sebelumnya.
Insiden awal yang memicu respons AS adalah serangan yang dilancarkan oleh pasukan Iran terhadap kapal Singapura. Serangan tersebut terjadi sehari sebelum pembalasan AS, saat kapal tersebut sedang melakukan pelayaran melewati jalur maritim vital Selat Hormuz.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa operasi militer mereka telah dilaksanakan dengan menargetkan beberapa fasilitas penting milik Iran. Sasaran utama meliputi lokasi penyimpanan rudal dan kendaraan nirawak (drone) Iran.
Selain itu, CENTCOM juga menyatakan bahwa posisi radar pesisir milik Iran menjadi salah satu objek yang menjadi sasaran serangan balasan tersebut. Tindakan ini menunjukkan upaya AS untuk menetralkan kemampuan deteksi musuh di area tersebut.
Pasukan AS kemudian merilis bukti visual dari serangan yang mereka lakukan. Bukti tersebut berupa rekaman video hitam-putih yang tampak buram, menampilkan momen ledakan yang diakibatkan oleh serangan presisi mereka.
Video tersebut sengaja diberi label 'tidak rahasia' oleh pihak militer AS saat disebarluaskan kepada publik. Hal ini mengindikasikan upaya transparansi parsial mengenai operasi militer yang telah dilakukan.
"Agresi yang tidak beralasan terhadap pelayaran komersial oleh pasukan Iran jelas melanggar gencatan senjata," ujar Komando Pusat AS dalam pernyataan resminya saat mengumumkan serangan balasan tersebut.
Pernyataan tegas tersebut menggarisbawahi bahwa tindakan Iran terhadap kapal sipil dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan yang berlaku di kawasan tersebut. Dikutip dari Reuters, Sabtu (27/6/2026).