BISNIS.HOTNEWS.ID - Ekonom menyoroti kondisi nilai tukar Rupiah yang masih berada di kisaran Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS). Fenomena ini terjadi meskipun Bank Indonesia (BI) telah mengimplementasikan serangkaian kebijakan baru di sektor moneter untuk menstabilkan mata uang Garuda.
Hal ini menjadi perhatian utama para pengamat ekonomi mengenai efektivitas intervensi kebijakan yang telah dilakukan oleh otoritas moneter Indonesia. Tekanan pada mata uang Rupiah ini memicu diskusi mengenai faktor-faktor lain yang turut berperan di luar kendali bank sentral.
Yusuf Rendy Manilet, seorang Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, memberikan pandangannya mengenai isu pelemahan Rupiah ini. Ia menekankan bahwa nilai tukar dalam perekonomian terbuka dipengaruhi oleh spektrum kondisi ekonomi yang lebih luas.
"Karena itu, pelemahan rupiah tidak bisa langsung disimpulkan sebagai kegagalan BI," kata Yusuf ketika dihubungi pada hari Rabu, 24 Juni 2026.
Yusuf kemudian menguraikan bahwa terdapat tiga faktor signifikan yang menyebabkan mata uang Rupiah mengalami tekanan pelemahan terhadap mata uang dolar AS. Faktor pertama dan yang paling dominan adalah tekanan eksternal yang saat ini sedang dihadapi oleh pasar global.
Tekanan global ini di antaranya disebabkan oleh perlambatan ekonomi di berbagai belahan dunia yang dipicu oleh perang tarif antarnegara dagang besar. Selain itu, ketidakpastian politik dan ekonomi antara Amerika Serikat dan Tiongkok juga turut memperburuk situasi pasar.
Faktor lain yang mempengaruhi adalah perkembangan mengenai upaya perdamaian antara Iran dan AS, serta meningkatnya kewaspadaan investor yang mendorong pergerakan arus modal keluar dari negara-negara berkembang. Hal ini secara otomatis memberikan dampak negatif terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
"Dalam situasi seperti ini, hampir semua mata uang negara berkembang mengalami tekanan. Sehingga persoalannya bukan semata-mata respons BI, tetapi juga lingkungan global yang belum sepenuhnya kondusif," ujar Yusuf Rendy Manilet.
Dilansir dari Bloomberg Technoz, Jakarta, analisis ini menunjukkan bahwa pelemahan Rupiah sebagian besar merupakan cerminan dari kondisi makroekonomi global yang sedang tidak stabil, bukan semata-mata kegagalan kebijakan domestik Bank Indonesia.