BISNIS.HOTNEWS.ID - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa baru-baru ini mengungkapkan rasa herannya mengenai perhatian yang dinilai berlebihan dari berbagai lembaga keuangan global terhadap kondisi fiskal Indonesia. Sorotan tersebut muncul meskipun Indonesia telah berhasil menjaga defisit anggaran di bawah ambang batas 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Keheranan ini juga mencakup rasio utang pemerintah yang selama ini terpantau berada di bawah batas aman 60% terhadap PDB, sebagaimana standar yang ditetapkan secara internasional. Hal ini disampaikan Purbaya dalam sebuah forum resmi untuk membahas perkembangan ekonomi dan keuangan negara.

Purbaya Yudhi Sadewa secara spesifik menyoroti bahwa Indonesia kerap menjadi sasaran kritik mengenai batas defisit, padahal banyak negara lain yang secara signifikan telah melampaui batas 3%. Negara-negara tersebut antara lain Malaysia, Vietnam, India, hingga Amerika Serikat (AS).

Dilansir dari Bloomberg Technoz, Menteri Keuangan mengungkapkan bahwa ia merasa bingung mengapa Indonesia terus-menerus menjadi fokus utama dalam isu defisit anggaran. "Padahal yang lain sudah di atas 3%. Hanya kita yang disorot, saya juga agak bingung sebetulnya kenapa, tetapi nggak apa, kita stick ke disiplin yang mereka terapkan," kata Purbaya.

Lebih lanjut, Purbaya menegaskan bahwa meskipun ada sorotan, pemerintah akan tetap berpegang teguh pada disiplin fiskal yang telah diterapkan selama ini. Komitmen ini diharapkan dapat menjadi contoh positif bagi negara-negara lain di kawasan maupun global.

"Nanti kita tunjukan ke mereka bahwa yang terbaik adalah kita, negara lain harus contoh kita," tambah Purbaya saat menyampaikan pandangannya dalam sebuah rapat bersama Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI pada hari Senin, 22 Juni 2026.

Perbandingan juga dilakukan Menteri Keuangan mengenai rasio utang antara Indonesia dengan negara-negara maju yang memiliki tingkat utang jauh lebih tinggi. Sebagai contoh, Jerman memiliki rasio utang di atas 60% PDB, sementara AS mencatat angka sekitar 100% dari PDB.

Bahkan, Jepang menjadi perbandingan utama karena rasio utangnya mencapai angka fantastis, yaitu sekitar 275% terhadap PDB negara tersebut. Namun, negara-negara maju tersebut tidak mendapatkan pengawasan seketat yang diterima oleh Republik Indonesia.

"Tapi kita yang diincar Pak. Saya nggak tau kenapa. Mungkin kita masih kurang doa," seloroh Purbaya, mengakhiri penyampaiannya mengenai persepsi lembaga internasional terhadap kondisi keuangan Indonesia.