BISNIS.HOTNEWS.ID - Perkembangan terbaru di sektor jasa Amerika Serikat (AS) menunjukkan tren ekspansi yang tetap berlanjut, meskipun terdapat sedikit perlambatan dalam ritme pertumbuhannya sepanjang bulan Juni. Indikasi positif ini juga terlihat dari peningkatan aktivitas perusahaan dalam merekrut tenaga kerja baru.

Aktivitas perekrutan ini terjadi seiring dengan adanya meredanya tekanan biaya operasional yang sebelumnya membebani banyak perusahaan di sektor tersebut. Hal ini memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk lebih fokus pada ekspansi sumber daya manusia.

Data resmi mengenai kondisi ini dirilis oleh Institute for Supply Management (ISM) pada hari Senin, tanggal 6 Juli 2026. Data tersebut menjadi tolok ukur utama untuk mengukur kesehatan sektor non-manufaktur di AS.

Berdasarkan rilis tersebut, indeks sektor jasa ISM tercatat mengalami penurunan tipis sebesar 0,5 poin, menempatkannya di level 54. Angka ini masih berada di atas ambang batas 50, yang secara tegas mengindikasikan adanya fase pertumbuhan berkelanjutan.

Realisasi indeks pada bulan Juni ini, menurut analisis, terpantau selaras dengan proyeksi dan ekspektasi yang telah ditetapkan oleh para ekonom sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa pergerakan pasar berjalan sesuai prediksi pasar.

Meskipun indikator yang mengukur aktivitas bisnis secara keseluruhan dan volume pesanan baru menunjukkan sedikit tanda perlambatan, kedua instrumen tersebut tetap mengonfirmasi bahwa permintaan pasar secara umum masih berada pada tingkat yang solid. Permintaan konsumen menjadi penopang utama sektor ini.

Secara kontras, indeks ketenagakerjaan ISM justru menunjukkan lonjakan yang cukup tajam, mencatatkan kenaikan tertinggi sejak tahun 2024. Kenaikan ini menandai peningkatan jumlah karyawan yang dilakukan oleh perusahaan jasa untuk pertama kalinya sejak bulan Februari lalu.

Sementara itu, mengenai dinamika inflasi pada sisi produsen, tren kenaikan harga masih terdeteksi, namun kecepatannya jauh lebih tenang dibandingkan periode sebelumnya. Indeks harga yang dirilis oleh kelompok tersebut menunjukkan kemerosotan signifikan.

Indeks harga produsen tersebut tercatat merosot ke posisi 67,7, yang merupakan level terendah yang dicapai dalam kurun waktu empat bulan terakhir. Hal ini mengindikasikan adanya deselerasi inflasi biaya input.