BISNIS.HOTNEWS.ID - Bursa saham di kawasan Asia kini tengah bersiap menghadapi potensi kenaikan tipis pada pembukaan perdagangan hari ini. Hal ini dipicu oleh gelombang reli yang terjadi pada saham-saham raksasa teknologi di Amerika Serikat (AS) baru-baru ini.
Reli saham teknologi AS tersebut berhasil membangkitkan kembali kepercayaan investor di pasar Asia. Kepercayaan ini berakar pada keyakinan bahwa tren penguatan pasar (bullish) yang didorong oleh sektor kecerdasan buatan (AI) masih memiliki prospek pertumbuhan yang menjanjikan.
Indikasi awal pergerakan positif ini terlihat dari kontrak berjangka (futures) indeks saham. Kontrak tersebut mengisyaratkan pembukaan pasar yang lebih cerah, terutama untuk bursa utama seperti Tokyo dan Hong Kong pada hari ini.
Sektor semikonduktor dan Indeks Kospi di Korea Selatan diprediksi akan menjadi sorotan utama investor hari ini. Perhatian tertuju pada hasil laporan laba Samsung Electronics Co yang ternyata mampu melampaui ekspektasi pasar yang telah ditetapkan sebelumnya.
Selain itu, langkah strategis yang diambil oleh SK Hynix Inc turut menambah optimisme di sektor tersebut. Perusahaan tersebut dikabarkan telah resmi memulai proses pemasaran formal untuk rencana pencatatan saham perdana (listing) mereka di bursa saham AS.
Sentimen positif para pelaku pasar di Asia turut terdongkrak oleh pemulihan signifikan yang terjadi di Wall Street. Indeks acuan S&P 500 berhasil ditutup menguat sebesar 0,7% pada sesi perdagangan sebelumnya.
Lebih lanjut, indeks yang lebih berorientasi pada teknologi, Nasdaq 100, menunjukkan performa yang lebih impresif dengan lonjakan mencapai 1,3%. Bahkan, indeks acuan khusus untuk produsen cip di AS ikut menanjak 2,2%, mematahkan tren penurunan yang sempat terjadi selama dua hari berturut-turut.
Dilansir dari Bloomberg, sentimen positif ini muncul setelah adanya reli pada sejumlah saham raksasa teknologi Amerika Serikat (AS) yang kembali membangkitkan kepercayaan pasar bahwa tren penguatan (bullish) yang digerakkan oleh sektor kecerdasan buatan (AI) masih memiliki ruang untuk melaju.
Berpindah ke sektor komoditas, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) justru tertahan dalam tren pelemahan. Kondisi ini disebabkan oleh semakin nyatanya indikasi kelebihan pasokan (oversupply) di pasar global.