BISNIS.HOTNEWS.ID - Sebuah perkembangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi menciptakan dinamika baru yang signifikan bagi pasar energi global. Hal ini diperkirakan akan menjadi panggung bagi pemulihan permintaan minyak dari Tiongkok, yang membawa konsekuensi berupa peningkatan tekanan inflasi di seluruh dunia.

Proyeksi ini didasarkan pada skenario kunci, yaitu keberhasilan kesepakatan damai antara AS dan Iran yang tetap bertahan. Jika kesepakatan tersebut terwujud, hal ini secara bertahap akan memulihkan aliran energi yang selama ini terhambat menuju ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.

Lantas, bagaimana dampak spesifiknya terhadap pasar energi? Menurut analisis ekonomi, Tiongkok selama periode konflik telah berfungsi sebagai penyangga utama atau peredam guncangan bagi volatilitas harga energi global.

Ekonom Bloomberg, Chang Shu dan David Qu, menggarisbawahi peran krusial Tiongkok dalam meredam kenaikan harga minyak mentah. Mereka mencatat bahwa penurunan tajam dalam impor minyak mentah Tiongkok telah membantu meredam tekanan harga di tengah salah satu krisis pasokan terparah yang pernah tercatat.

"Sepanjang konflik, China secara efektif bertindak sebagai peredam guncangan bagi pasar energi global, dengan penurunan tajam impor minyak mentahnya membantu meredam tekanan harga minyak selama salah satu krisis pasokan terparah yang pernah tercatat," tulis ekonom Bloomberg Chang Shu dan David Qu dalam sebuah catatan pada Senin (15/6/2026).

Implikasi dari pemulihan permintaan Tiongkok ini sangat bergantung pada kondisi pasokan energi global yang ada. Jika permintaan Tiongkok meningkat tajam sementara aliran energi global masih terbatas, pasar akan mengalami pengetatan signifikan.

"Setiap pemulihan permintaan minyak China — terutama jika aliran energi tetap terbatas — dapat memperketat pasar energi global, menghidupkan kembali tekanan inflasi, dan mempersulit tugas yang dihadapi bank sentral," kata mereka.

Kondisi ini menciptakan dilema bagi para pembuat kebijakan moneter di berbagai negara. Tekanan inflasi yang kembali menghangat akibat ketidakseimbangan pasokan-permintaan akan menambah kerumitan dalam upaya bank sentral mengendalikan stabilitas harga domestik.

Dikutip dari Bloomberg, skenario ini menyoroti keterkaitan erat antara geopolitik, kebijakan energi, dan kesehatan ekonomi makro global. Pemulihan Tiongkok, meskipun positif bagi pertumbuhan ekonomi mereka, dapat menjadi katalisator bagi inflasi di negara lain.