BISNIS.HOTNEWS.ID - Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) menyampaikan pandangan yang sangat optimis mengenai masa depan permintaan minyak mentah dunia dalam dokumen terbarunya. Proyeksi ini menunjukkan bahwa isu ketahanan energi kini mendominasi kebijakan pemerintah di berbagai negara maju.
Prioritas utama tersebut terlihat jelas di Amerika Serikat, Eropa, dan kawasan lainnya yang cenderung mengutamakan jaminan pasokan energi dan stabilitas harga di atas upaya mitigasi perubahan iklim. Hal ini secara signifikan mengubah arah kebijakan energi secara global saat ini.
Menurut analisis OPEC, peningkatan fokus pada aspek ketahanan dan keterjangkauan harga energi telah mentransformasi lanskap kebijakan energi di seluruh dunia. Mereka mengamati adanya pergeseran paradigma yang signifikan dari komitmen sebelumnya.
"Dalam banyak kasus, pergeseran ini mencerminkan pembalikan, penundaan, atau pembatalan target dan komitmen ambisius sebelumnya yang bertujuan mengurangi permintaan minyak," kata OPEC.
OPEC secara spesifik memproyeksikan bahwa permintaan minyak global tidak akan mencapai puncaknya dalam waktu dekat, melainkan akan terus mengalami pertumbuhan yang kuat dalam dua dekade mendatang. Proyeksi ini didasarkan pada kebutuhan energi yang terus meningkat di berbagai sektor.
Secara kuantitatif, permintaan minyak diprediksi akan mencapai 113,3 juta barel per hari pada tahun 2030 mendatang. Angka ini merupakan peningkatan substansial dari proyeksi tahun 2025 yang diperkirakan mencapai 105,1 juta barel per hari.
Proyeksi jangka panjang OPEC bahkan lebih tinggi, memperkirakan konsumsi akan melonjak hingga menyentuh angka 124,1 juta barel per hari pada tahun 2050. Proyeksi ini disajikan dalam publikasi tahunan mereka, World Oil Outlook.
Pandangan yang sangat optimistis dari OPEC ini tampak kontras dengan prediksi lembaga energi internasional lainnya yang memiliki pandangan lebih pesimistis mengenai permintaan minyak di masa mendatang. Salah satunya adalah Badan Energi Internasional (IEA) yang berbasis di Paris.
Dilansir dari Bloomberg, IEA baru-baru ini mengeluarkan prediksi yang berbeda, menyoroti dampak geopolitik yang lebih dalam terhadap pasar energi global. Mereka memperkirakan konsumsi minyak dunia akan mengalami penurunan signifikan tahun ini.