BISNIS.HOTNEWS.ID - Pergerakan pasar saham di kawasan Asia diproyeksikan akan mengalami penurunan pada hari Kamis, tanggal 02 Juli 2026. Proyeksi ini muncul sebagai respons terhadap sentimen pasar global yang tengah tertekan oleh berbagai faktor domestik Amerika Serikat.

Salah satu pemicu utama adalah adanya aksi jual yang signifikan di kalangan produsen chip Amerika Serikat. Penurunan tajam pada sektor teknologi AS ini secara langsung membebani sentimen investor di bursa-bursa Asia menjelang pembukaan perdagangan.

Investor global juga disibukkan dengan upaya mencerna pernyataan terbaru yang disampaikan oleh Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh. Pernyataan The Fed ini menjadi sorotan penting karena dapat memberikan petunjuk arah kebijakan moneter ke depan.

Indikasi pelemahan ini sudah terlihat dari pasar berjangka di beberapa negara utama Asia, seperti Australia, Jepang, dan Korea Selatan. Indeks saham berjangka tersebut mengindikasikan tren penurunan saat sesi perdagangan mereka dibuka nanti, mengikuti pelemahan semalam di pasar AS.

Dilansir dari Bloomberg, pasar saham Amerika Serikat memang ditutup melemah pada sesi perdagangan sebelumnya. Indeks S&P 500 tercatat turun sebesar 0,2% dari penutupan sebelumnya.

Lebih parah lagi, indeks Nasdaq 100 yang sangat bergantung pada saham-saham teknologi mengalami penurunan signifikan, tergelincir hingga 1,5%. Bahkan, Indeks saham semikonduktor anjlok lebih dalam, yaitu sebesar 6,3%.

Di sisi lain, pasar komoditas dan obligasi juga menunjukkan dinamika tersendiri, di mana imbal hasil obligasi Treasury dua tahun mengalami sedikit penurunan. Sementara itu, harga minyak mentah melemah setelah adanya perkembangan positif dalam negosiasi tidak langsung antara AS dan Iran.

Terkait kebijakan moneter, Kevin Warsh memberikan pandangannya saat berbicara dalam forum tahunan Bank Sentral Eropa (ECB) di Sintra, Portugal. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan perkembangan terkait inflasi AS.

"Ekspektasi inflasi telah melambat selama sebulan terakhir," ujar Kevin Warsh.