BISNIS.HOTNEWS.ID - Perundingan sensitif antara delegasi Amerika Serikat dan Republik Islam Iran dilaporkan masih berlanjut di Swiss, meskipun muncul pemberitaan dari media Iran mengenai penghentian dialog. Informasi ini didapatkan dari beberapa pihak yang memiliki pemahaman mendalam mengenai jalannya pertemuan tersebut.
Dua saluran media semi-resmi di Iran sempat mengemukakan bahwa Teheran telah memutuskan untuk menghentikan proses perundingan dengan Washington. Keputusan ini disebut dipicu oleh ancaman serangan baru dari Presiden Donald Trump terkait aktivitas Hizbullah di Lebanon.
Namun, sumber-sumber anonim yang enggan disebutkan namanya karena sifat pembicaraan yang sangat rahasia mengonfirmasi bahwa para negosiator kedua belah pihak tetap berada di Swiss. Mereka menegaskan bahwa dialog tersebut belum berakhir sesuai dengan kabar yang beredar.
Ketegangan mencuat sejak pertemuan dimulai pada hari Minggu, ketika Presiden Trump menyampaikan peringatan keras melalui media sosial. Ia mengancam akan mengambil tindakan lebih lanjut jika Iran tidak segera menghentikan dukungan terhadap proksi-proksi mereka di Lebanon yang dituduh menciptakan kekacauan.
Selain itu, Presiden Trump juga memberikan peringatan terkait potensi sanksi ekonomi baru jika tidak tercapai kesepakatan damai. Ia mengindikasikan adanya potensi pengenaan biaya tol jika jalan diplomasi menemui jalan buntu.
Dalam sebuah wawancara yang disiarkan pada hari Minggu, Presiden Trump menyampaikan pesan yang sangat tegas kepada para pemimpin Iran. Ia menekankan dampak serius yang akan timbul jika Republik Islam tersebut mengambil langkah drastis terkait jalur pelayaran vital.
Presiden Trump secara spesifik menyampaikan bahwa jika Iran mencoba menutup Selat Hormuz, konsekuensinya akan sangat cepat dan tidak dapat dihindari. "Ia juga memperingatkan Iran bahwa AS mungkin akan mulai memungut biaya tol jika tidak tercapai kesepakatan," kata Trump, yang kemudian memberikan peringatan keras terkait Selat Hormuz, "Kalian bahkan tidak akan sempat kembali” ke Iran, sambil menggunakan kata-kata kasar, sebagaimana dikutip dari Bloomberg News.
Penulis berita internasional ini, Eltaf Najafizada, Bastian Benrath-Wright, dan Fiona MacDonald, telah menyajikan perkembangan terkini dari situasi yang dinamis ini. Dilansir dari Bloomberg News, situasi ini menunjukkan adanya upaya berkelanjutan di balik layar meski retorika publik semakin meninggi.