BISNIS.HOTNEWS.ID - Sebuah perkembangan demografi terkini di Singapura menunjukkan adanya tren peningkatan jumlah penduduk yang memilih untuk tetap melajang dalam jangka waktu yang lebih panjang. Fenomena ini terjadi paralel dengan tantangan angka kelahiran yang terus menurun hingga mencapai titik terendah sepanjang sejarah negara kota tersebut.
Data terbaru ini diungkapkan melalui hasil survei resmi yang dipublikasikan oleh Departemen Statistik Singapura pada hari Selasa. Survei tersebut menyoroti perubahan signifikan dalam struktur usia dan status perkawinan penduduk tetap di negara tersebut.
Secara spesifik, kelompok perempuan lajang yang berada dalam rentang usia 25 hingga 29 tahun menunjukkan lonjakan persentase tertinggi. Angka mereka tercatat mencapai 73,4% pada tahun 2025, naik dibandingkan dengan data tahun 2020 yang berada di angka 69%.
Sementara itu, pada segmen laki-laki, peningkatan proporsi orang yang belum menikah paling signifikan terjadi pada kelompok usia 30 hingga 34 tahun. Data tahun lalu mencatat bahwa jumlah laki-laki lajang di kelompok usia tersebut telah naik hingga mencapai angka 47,6%.
Peningkatan proporsi orang dewasa muda yang memutuskan untuk menunda pernikahan ini terjadi di tengah upaya berkelanjutan pemerintah Singapura untuk mengatasi krisis penurunan angka kelahiran. Negara ini telah mengimplementasikan berbagai kebijakan pro-natalitas selama beberapa tahun terakhir.
Berbagai insentif finansial telah disiapkan, termasuk pemberian bonus tunai bagi setiap kelahiran bayi yang sukses. Selain itu, pemerintah juga telah melakukan perpanjangan cuti bagi para ayah dan melonggarkan regulasi terkait prosedur pembekuan sel telur.
Menanggapi situasi ini, Perdana Menteri Lawrence Wong menyampaikan pandangan pemerintah mengenai fokus kebijakan di masa depan. "Pemerintah akan berfokus untuk menjadikan Singapura sebagai tempat yang lebih baik untuk membesarkan keluarga, alih-alih terutama mengandalkan insentif finansial untuk mendorong warganya memiliki lebih banyak anak," ujar Lawrence Wong awal bulan ini.
Dilansir dari Bloomberg News, perkembangan ini menunjukkan bahwa tantangan demografi di Singapura memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif yang melampaui sekadar dukungan moneter semata.